Selasa - 12 Maret 2019 - pukul 08:59:42 WIB
SINTANG MEMBACA

Tempat Berkumpulnya Para Pencinta Buku di Sintang

SINTANG Membaca adalah sebuah komunitas di Kota Sintang, yang mulai dibentuk akhir Februari 2018. Komunitas ini ada, oleh inisiatif dari Restiana Purwaningrum, yang memang punya hobi membaca sejak kecil.

          Sesusai menempuh pendidikan di Kota Pontianak, Resti ingin punya teman-teman di Sintang yang bisa diajak diskusi soal buku, sebagaimana dulu di Pontianak, saat ini aktif bersama beberapa komunitas literasi.

          “Ketika aku menyelesaikan pendidikan di Pontianak, dan harus kembali ke Sintang aku merasa perlu untuk menemukan teman-teman yang memiliki minat dan kecintaan yang besar pada buku. Terutama untuk bertukar bahan bacaan dan berdiskusi,” katanya.

          Menurut dia, di Sintang akses terhadap bahan bacaan sangat sulit, apalagi menemukan teman-teman yang bisa diajak bicara soal buku. Karena itulah muncul gagasan untuk membentuk sebuah komunitas membaca, dimana ia berharap agar nantinya komunitas Sintang membaca dapat menjadi wadah untuk orang-orang yang mencintai buku agar dapat saling menemukan.

          Saat ini, sudah ada sekitar 30 orang yang tergabung dalam Sintang Membac. Mereka terdiri dari berbagai latar belakang, mahasiswa, pelajar dan ada yang sudah bekerja.

          Mereka melakukan berbagai kegiatan, selain diskusi digrup virtual dan bergantian menulis di web Sintang Membaca, mereka juga punya kegiatan dilapangan. Mulai dari ngelapak buku di Taman Bungur tiap Minggu sore, serta Goes To School, yaitu dengan pergi kesekolah-sekolah untuk mendekatkan buku kepada teman-teman di sekolah.

          Ngobrol bebas berupa diskusi santai dengan beragam tema secara bergantian, hingga membangun ruang baca dengan mengumpulkan buku-buku untuk membuat ruang baca diberbagai daerah di Sintang.

“ Saat ini, kita baru berhasil bikin satu ruang baca, namanya Ruang Baca Insal Jemelak, di Kecamatan Kelam Permai. Kita juga biasanya terlibat dalam kegiatan gabungan sama komunitas-komunitas lain di Sintang,” kata Resti.

  Ada beragam cerita unik dan menarik, sekaligus mengharukan yang mereka dapat, terutama saat melapak. Misalnya ketika ada seorang anak yang tidak mau pulang dari lapak buku, saking asiknya membaca. “Dia baru mau pulang waktu kami suruh bawa bukunya pulang,” kata Resti.

          Pernah juga, ada anak yang ngotot memberi uang setelah dia selesai mewarnai gambar yang mereka sediakan di lapak.” Diam-diam kami masukkan kembali uang yang dia kasih ke dalam tasnya,”kenang Resti.       

          Tidak hanya disambut baik oleh masyarakat, tapi mereka juga diapresiasi positif oleh berbagai pihak, seperti komunitas lain yang ada di Sintang, pemerintah, bahkan LSM. 
Sumber : Tribun Pontianak, Minggu 24 Februari 2019