Rabu - 05 Juli 2017 - pukul 18:26:29 WIB
Pesona Ekowisata Desa Menua Sadap dan Melemba : Tenun Eksotis Dayak Iban ( Bagian 2)

Berbagai hasil kerajinan kain tentun dan berberapa pernak pernik khas Dayak Iban di Rumah Panjai Dusun Kelayam, Desa Menua Sadap. Kecamatan Embaloh Hulu, Kapuas Hulu terpanjang didinding bilik-bilik menarik perhatian.

Warna-warni kain tenun yang terpanjang juga beragama. Ada biru, coklat dan merah. Bila diperhatikan seksama, kain tenun dibilik kebanyakaan berwarna merah manggis dengan motif khas Dayak Iban.

Ukuran kain tenunnya juga besar. Hampir sebagian dinding bilik tertutupi kai tenun. Kira-kira lembar kain mencapai 2 hingga 3 meter. Di depan beberapa bilik, terdapat alat tenun lengkap yang masih dalam proses pengerjaan ibu-ibu di Rumah Panjai.

Warna alami kain dari bahan kayu beragam motiftenun khas hutan Kalimatan memang memiliki daya pikat tersendiri.begitu pula kain tenun buatan ibu-ibu Dayak Iban Dusun Kelayam juga memiliki ciri khas sendiri.

Menggunakan warna alami dari bahan dasar bermacam kulit kayu membuat tenunanya di minati masyarakat. Tak heran jika produk tenunnya terbang ke mancanegara. Bagi perempuan iban, keterampilan menenun wajib dimiliki sebagai bekal ketika berkelurga.

Budaya menenun dilakukan sejak awal mula kehidupan masyarakat Suku Dayak Iban dan telah diturunkan dari generasi ke generagi. Dulu tidak seperti sekarang yang memiliki banyak pasar dan toko yang  menjual berbagai kebutuhan sandang seperti pakian.

Melalui tenun inilah masyarakata menggunakan untuk keperluan sandang. Kain tenun berasal dari kapas yang ditanam masyarakat, kapas yang dipanen kemudian dibental dan dilakukanlah proses menenun.

Menenun pun tidak dilakukan secara sembarangan. Ada proses ritual adat yang harus dilalui. Sebelum menenu, dilakukan pementalan pada benang. Benang yang telah dibental lalu dianyampada alat tenunan.

Kemudian dibuatlah berbagai motif yang diikat menggunakan daun lemak agar lebih alami. Namun sekarang daun lemak sudah diganti dengan plastik atau pun tali rafia. Dalam setiap warna yang yang didapkan berasal dari berbagai pohon mengkudu, pohon jangau dan lainnya. “Sekarang kita sudah bisa membuat warna alami. Jadi tidak memakai wantek (pewarna buatan / kimia) lagi,” kata ketua Seni Budaya, Emilia Telibai (48), Selasa (23/5).

Emilia menjelaskan, pada awal-awal, kelompok tenunnya menggunakan pewarna kimia. Penggunaan ini dilakukan karena mereka masih belajar menenun. Namun setelah bisa mereka lebih menggunakan pewarna alami untuk menjaga kaulitas kain tenun.  Tenun yang menggunakan bahan kimia dapat membuat kain luntur.  Namun bila menggunakan pewarna alami, warna kain tidak akan luntur.  Begitu pula untuk kecerahan, penggunaan bahan kimia warna akan cerah dibandingkan dengan pewarna alami yang terlihat pucat.  “Namun orang lebih banyak suka yang pakai pewarna alam karena tidak luntur,” tuturnya.

Proses pembuatan pewarna alami tak begitu lama.  Membuat pewarna  alami dimulai dari mengambil kulit kayu dan ada pula sebagian dari daun direbus. Bila sudah matang proses selanjutnya dicampur dengan kapur sirih sebagai pengikat agar warna tak luntur.  Bisa juga menggunakan campuran tanaman kunyit.  Lalu benang yang sudah diikat dibuat menjadi motif.  Ada pantang yang dipercaya masyarakat Suku Dayak Iban, dalam proses pembuatanpewarna alami.  Bila ada orang yang datang, maka proses pencelupan akan dihentikan sementara.  Selain itu, bila ada anak yang giginya belum tumbuh, dilarang untuk memegang alat tenun.  Dikhawatirkan anak tersebut menjadi bisu bila proses menenun tetap dipaksakan.  Begitu pula bila anak masih kecil.  Ibu-ibu dilarang untuk melakukan proses tenun.  Agar kepala tidak sakit karena terlalu lama menunduk.  Bila anak sudah pandai merayap dan berjalan, baru bisa dilakukan proses menenun.  Ini kalau menenun memang ada pantang, ucap Emilia. 

Lebih lanjut Emilia menceritakan, pada waktu dulu.  Para orangtua sangat ketat dalam aturan.  Para gadis Suku Dayak Iban yang mau menikah harus bisa menganyam, menenun dan lainnya sebagai bekal yang dibawa untuk hidup bersama suami.  Bila menikah tanpa ada keterampilan yang bisa dilakukan akan susah hidupnya.  Apalagi dulu belum mengenal sistem pendidikan seperti sekolah.  Berbagai motif ditunjukkan Emilia diantaranya motif komodo, ranting-ranting pohon dan lainnya.

Semua lkain tenun yang dibuat memiliki motif khas suku Dayak Iban.  Produk yang dihasilkan dari proses kain tenun meliputi selimut, pakaian, taplak meja, hiasan dinding, jaket, rompi, sal dan lain sebagainya.  “Harga bervariatif mulai dari Rp. 75 ribu , ratusan ribu, hingga jutaan.  Tergantung motif, lebar dan panjang kain,” ujarnya.  Hasil produk kain tenun yang mereka buat telah dipasarkan ke berbagai wilayah, baik lokal, nasional, dan mancanegara.  Bahkan produk mereka sering dijajakan pada setiap kegiatan pameran kebudayaan.

Satu diantara penenun Dusun Kelayam ialah Yuliana Hermina.  Keterampilan menenunnya sudah dilakukan sejak usianya beranjak 14 tahun.  Keaktifan menenun telah dilakukan secara intensif dalam kurun waku dua tahun terakhir.  Ada 16 orang yang menenun di Dusun Kelayam.  Ilmu menenun ia dapat dari ibunya yang sebelumnya sudah dirurunkan oleh neneknya.  Tak mudah untuk membuat tenun pada awal-awal belajar.  Perlu ksabaran.  Semua daun-daun  dan kulit kayu didalam hutan telah dicoba untuk mendapatkan pewarna alami.  Ada 38 jenis yang berhasil, yang tak mendapatkan warna alami tidak mereka pakai.  “Pewarnai alami ini tidak ditanam.  Kami cari di hutan, katanya.

Usaha tenun ini memberikan dampak perekonomian bagi masyrakat.  Bulan Februari 2017 saja, ia mampu mendapatkan Rp.2,2 juta.  Bulan Maret Rp. 3,4 juta dan bulan April  menurun hanya Rp. 3,4 juta dan bulan April menurun hanya Rp. 300 ribu.  Penghasilan ini didapat karena adanya pemesanan dari pembeli.  Para pembeli yang memesan langsung datang ke tempat mereka.  “Mereka yang memesan kain tenun lebih banyak pewarna alami.  Tidak ada yang menggunakan pewarna buatan,” ucap Hermina  (ridhoino Kristo Sebastianus Melano/bersambung)

Sumber :Tribun Pontianak