Jumat - 29 Desember 2017 - pukul 21:26:59 WIB
Perpustakaan Dibantu 5.000 Buku

Perpustakaan Nasional memberikan bantuan berupa 10 paket buku kepada komunitas yang ada di Kalbar. Demikian disampaikan Muhammad Syarif Bando, Kepala Perpustakaan Nasional dalam kunjungannya ke Pontianak, Rabu (1/11). “Sepuluh paket itu 5.000 eksemplar buku. Kami juga punya masih ada permintaan dari provinsi lain,” jelasnya kepada awak media.

Buku tersebut lanjut dia, akan diserahkan melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat. Dia berharap, bantuan ini bisa dimanfaatkan komunitas, baik di komunitas bidang keterampilan, literasi, ibu penggerak PKK, maupun disebarkan ke perbatasan.

“Di Kalbar ini ada banyak perbatasan dengan negara lain, maka kami memfasilitasi dengan buku-buku ilmu terapan sehingga sangat memungkinkan untuk memastikan masyarakat mendapatkan akses buku dari pemerintah,” jelasnya.

Terkait bantuan 5.000 buku itu, Kepala Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalbar, Igansius Ik mengatakan, pihaknya masih akan mengomunikasikan lebih lanjut. “Ini masih kita komunikasikan, karena barang itu harus kita ambil sendiri,” paparnya.

Menurut dia, untuk proses pengambilan buku ada biaya yang harus dikeluarkan karena tidak ditanggung Perpustakaan Nasional. Pihaknya juga harus melewati prosedur yang ada, terutama terkait masalah administrasi.

“Namanya pemerintahan ini kan tidak bisa tiba-tiba banyak ongkos angkut dan segala macam, ini kita coba cari solusinya bagaimana. Ada tidak pihak-pihak yang membantu kita untuk mengakngkutnya,” jelasnya.

Bantuan tersebut, lanjut Ignasius memamng diperuntukkan bagi komunitas di Kalbar. Namun, komunitas yang menginginkannya juga harus melewati prosedur yang ada, misalnya mengajukan proposal.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalbar juga mendapatkan bantuan tiga unit mobil perpustakaan keliling dari Perpustakaan Nasional. Kedatangan Syraif ke Kalbar juga menghadiri peluncuran aplikasi perpustakaan yang berbasis digital yang diberi nama iKalbar.

Menurut Syarif, saat ini perlu inovasi baru dalam mendekatkan budaya baca dengan masyarakat. Bukan lagi berbicara buku berdebut, tetapi masyarakat bisa mengakses buku dari rumah. Dengan begitu, lanjut Syarif tidak ada alasan lagi tidak ada buku, tidak ada waktu. Semua buku bisa diakses dalam bentuk digital. (mrd)