Rabu - 05 Juli 2017 - pukul 18:25:18 WIB
Pesona Ekowisata Desa Menua Sadap dan Melemba : Sapa Hangat di Rumah Panjai (Bagian I)

Enam Jurnalis, termasuk Wartawan Tribun Pontianak, Ridhoino Kristo Sebastianus Melano, melihat dari dekat Desa Menua Sadap dan Desa Melemba, di Kapuas Hulu.  Dua Desa ini adalah destinasi ekowisata dampingan Lembaga Kompakh melalui program Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan.

Kompakh melakukan kegiatan Jurnalis Trip menelisik potensi-potensi yang tersembunyi pada kedua desa tersebut dimulai Selasa (23/5) hingga Jumat (26/5).  Desa Menua Sadap dan Desa Melemba merupakan kawasan penyangga dan koridor di Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) di Kapuas Hulu.

Menggunakan maskapai penerbangan, enam jurnalis mendarat di Bandara Pangsuma Putussibau sekita pukul 10.00 WIB.  Tiba di Putussibau Tim Jurnalis menuju ke Kantor Kompakh untuk beristirahat dan makan siang serta menyiapkan keperluan perjalanan.  Selesai istirahat tim jurnalis bersama Kompakh menuju Desa Menua Sadap, kecamatan Embaloh Hulu, kabupaten Kapuas HUlu tepatnya di dusun Kelayam.  Tiba di lokasi kami disambut masyarakat Dayak Iban dengan upacara adat di halaman Rumah Panjai (Panjang/Betang).  Di sana barang sesaji penyambutan dihampar di tujuh piring berdasarkan tikar.  Dalam piring tersebut tersaji lemang, pinang, sirih, tembakau, daun, rokok, pulut, telur, ayam, rendai (beras gongseng), besi dan ayam kampung merupakan sesajiannya. Setelah sesaji didoakan, lalu di bungkus dalam pelampung pinang. Secara bersamaan, satu diantara masyarakat memotong seekor ayam tepat dibawah anak tangga betang. Usai ritual dilakukan, barulah satu persatu tamu masuk menaiki tangga menuju betang.

Syaratnya setiap tamu yang masuk kerumah panjai harus meninjak pelepah pinang itu. Dilakukan pula adat bepiau dikepala tangga dengan mengelilingkan ayam di atas kepala kami dengan maksud membuang hal-hal yang buruk yang menghambat tamu untuk masuk kerumah panjai. Di dalam rumah panjai kami di sambut dengan tarian Temuai Datai yang dibawakan para pemuda dan pemudi desa sembari berjalan sepanjang Ruai Rumah Panjai. Seusai menari, acara dilanjutkan dengan upacara Adat Bedara Piring 9 agar tamu yang datang memberikan berkah dan rejeki kepada masyarakat.”Ini upacara Besarak Temuai Datai (menerima tamu datang),” kata Tuai Rumah Panjai Dusun Kelayam, Novi Irwandi Lagi (52), Selasa.

Irwandi menjelaskan ada dua tahapan dalam prosesi sambutan tamu ini. Pertama proses sambutan. Orang sini ( Dayak Iban Dusun Kelayam) menyebut ngalu temuai. Proses ini dilakukan agar tamu yang datang selalu dalam keadaan sehat.

Ritual ini kata dia dipercaya dapat menghindarkan hal-hal buruk pada tamu. Masyarakat di sini menyakini prosesi sambut tamu dapat menangkal lemah semangat pengunjung. Makanya sebelum tamu datang terlebih dahulu disambut di depan halaman Rumah Panjai. Dengan prosesi ritual ini hal buruk dipercaya tak akan masuk setelah menginjak anak tangga Rumah Betang. “Makanya disertakan besi sebagai pengeras untuk menguat semangat kita, “jelasnya. Rumah Panjai telah lama ada dan didiami oleh masyarakat Dayak Iban di Kabupaten Kapuas Hulu. Tak mudah membuat Rumah Panjai. Harus dilakukan beberapa hal mulai dari mengumpulkan masyarakat untuk bersepakat menentukan lahan membangun Rumah Panjai.

Pada lahan yang akan dibangun Rumah Panjai disimpan air di dalam gelas dan ditaruh selama semalam. Bila air berkurang maka lahan itu tidak boleh di bangun. Sebaliknya bila masih penuh lahan bisa dibangun Rumah Panjai. Kemudian Tuai Rumah mengajak masyarakat rapat untuk melakukan kegiatan selanjutnya.

Bersama masyarakat dicarilah tiang besar dari jenis kayu yang kuat. Kayu dipikul beramai-ramai dengan membunyikan gong pada saat mengambil. Sesudah itu dicari ramu-ramu kecil dan mengolah kayu sebagai atap Rumah Panjai.

Rotan juga digunakan sebagai pengikat. “Tuai Rumah melakukan rapat lagi. Bila sudah siap semua maka dibangunlah Rumah Panjai,”cerita kepala adat (Pateh) Desa Menua Sadap, Impen (62).

Lebih lanjut Impen menceritakan, pembangunan Rumah Panjai dimulai dari sisi hilir yang kemudiana memanjang ke arah hulu. Setelah rumah selsai dibangun, barulah di isi dengan berbagai kelengkapan lainnya.

Rumah Panjai yang dibangun haruslah menghadap matahari terbit. Hal ini dilakakukan untuk menghindari hal-hal yang buruk yang bisa terjadi. Untuk pindah  ke Rumah Pinjai dilakukan pada malam hari.

Pada pagi harinya masyarakat memukul gomg dan dilarangg berjalan kehutam. Alasan dibuatnya rumah betang ini agar memudahkan masyarakat bermusayawarah. Apalagi penghuni di dalam Rumah Panjai adalah kelurga semua. Sehingga bila ada sesuatu perselisihan maupun syukuran tidak sulit mengumpulkan masyarakat. “Disitulah persatuan kita Orang Iban. Komunikasi kuat dalam kelurga,” tuturnya.

Rumah Panjai Dusun Kelayam memiliki panjang 120 meter dengan 25 bilik. Satu bilik rata-rata berukuran 5x5 meter yang dihuni 2hingga 3 Kepala Kelurga (KK). Pada bilik no 13 inilah kami menginap satu malam sebelum melanjutkan perjalanan bersama 49 KK penghuni Rumah Panjai lainya.

Malam hari di Rumah Panjai, kami disuguhi Tarian Gulung Tikar dari Dusun Sadap dan Tarian Puak Kumba dari Dusun Kelayam. Iringan-iringan musik dan tarian yang dibawakan muda-mudi Suku Dayak Iban memeriahkan suasana di Rumah Panjai. Kami pun larut dan ikut menari. Candaan dan gelak tawa menyeruak menutup istirahat malam kami di Desa Menua Sadap. (ridhoino kristo sebastianus melano/bersambung)

Sumber: Tribun Pontianak