Rabu - 05 Juli 2017 - pukul 18:24:34 WIB
Islam Di Kota Pontanak : Sultan Jadikan Islam Pondasi

Kesultanan Pontianak secara resmi mulai berdiri pada 23 Oktober 1771 M atau bertepatan dengan 14 Rajab 1185 H.  Bermula ketika Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie bersama armada lautnya tiba di Tanjung Besiku kemudian mendirikan Masjid Jami dan Istana Kesultanan Kadriah

Peletakan pondasi agama Islam sebagai dasar awal berdirinya pemerintahan Kesultanan Pontianak tidak bisa disangkal.  Hal tersebut dapat dibuktikan berdirinya Masjid Jami.  Sultan bersama rombongannya mendirikan Masjid sebagi tempat ibadah sekaligus syiar Islam di wilayah Kesultanan Pontianak, bukan membangun Istana yang berisi singgasana kekuasaan nan megah.

Peneliti Sejarah Pontianak, Khamsyah Ar Rahman di dalam penelitiannya menerangkan, ketika Sy. Abdurrahman tiba di Tanjung Besiku, saat itu wilayah ini kosong tah berpenghubi.  Tibanya armada Sy. Abdurrahman bersama dengan 14 kapal penjajah yang berangkat dari Mempawah  Keinginan untuk mencari kawasan baru dilakukan Sy. Abdurrahman sekitar 40 hari setelah wafatnya sang ayah, Habieb Husein.  Habieb Huseinsendiri merupakan Ulama Besar dari Tarim Hadramaut Yaman.  Habieb Husein melakukan perjalanan untuk berdakwah hingga sampailah ke darah nusantara ini.

“Banyak tempat yang pernah ia kunjungi seperti Aceh dan Semarang.  Kemudian kembali berlayar ke Kerajaan Matan pada tahun 1731 M berdasarkan dokumen Belanda yang ditulis Martinus Nijhoff pada 1925,” ujarnya.  Menurutnya dari dokumen-dokumen sejarah yang ada, ketika Habieb Husein tiba di Kerajaan Matan sudah lebih dulu ada seorang Mufti (pemuka agama) Sayyid Hasyimbin Yahya yang melakukan syiar.  Saat di Kerajaan Matan, Habieb Husein menikahi Nyai Tua, putri Sultan Muhammad Zainuddin (Sultan Matan).  Pernikanan ini melahirkan Syarief Abdurrahman Alkadrie.  Setelah menetap selama tiga tahun di Matan, Habieb Husein dan Syarief Abdurrahman Alkadrie pindah ke daerah Kerajaan Mempawah yang dipimpin Panembahan Adijaya, anak Opu Daeng Menambon untuk melanjutkan dakwah.

Pengalaman hidup, ilmu Agama dan ilmu dunia didapatkan Syarief Abdurrahman langsung dari sang ayah.  Itu menjadi bekal untuk dapat meneruskan tugas syiar Islam dan menjadi pemimpin yang bijaksana dalam membuat keputusan.   Dari data-data sejarah yang saat ini terkumpul, ketika awal berdirinya Kesultanan Pontianak. Fokus utama Syarief Abdurrahman membangun Masjid Jami.  Disamping itu, rombongan yang ikut denga Syarief Abdurrahman dari Mempawah membangun kawasan perkampungan di sekitar Masjid Jami (Kampong Bugis).  Kampong-kampong itu sangat kental nuansa keislamannya.

“Awal-awal ketika berdirinya Kota Pontianak, terdapat kampong-kampong yang beradadi sekitaran Masjid Jami.  Diantaranya Kampong Dalam, Kampong Bugis, Kampong Tambelan Raja dan Kampong Banser,” katanya.

Sumber : TribunPontianak